30 Hari Menjalankan Website di ArenHost, Apa yang Bisa Dipelajari?

Awalnya saya sedang mencari hosting untuk sebuah proyek website. Proyeknya belum besar, tapi cukup penting buat saya, jadi saya nggak ingin memilih hanya karena harganya murah. Sebelum dipakai lebih jauh, saya ingin tahu dulu bagaimana

Written by: Fajar

Published on: 03/11/2026

Awalnya saya sedang mencari hosting untuk sebuah proyek website. Proyeknya belum besar, tapi cukup penting buat saya, jadi saya nggak ingin memilih hanya karena harganya murah. Sebelum dipakai lebih jauh, saya ingin tahu dulu bagaimana hasilnya saat diuji paling tidak 30 haari dan apakah mudah mendapat bantuan kalau ada masalah.

Di tengah pencarian itu, saya menemukan ArenHost. Paket Business Starter-nya menarik perhatian karena harganya Rp15.000 per bulan. Daripada langsung memindahkan seluruh proyek, saya memutuskan mencoba dulu selama 30 hari, dari taggal 1 sampai 30 Oktober 2026. Sekalian, hasilnya bisa jadi bahan artikel buat orang lain yang juga sedang mencari hosting.

Mulai dari paket Business Starter

Image

Paket Business Starter yang digunakan dalam pengujian, ditandai kotak merah.

Untuk percobaan ini, paket yang dipakai adalah Business Hosting Starter. Spesifikasinya mencakup CPU 1,5 core, RAM 2 GB, penyimpanan NVMe 10 GB, dan dukungan tiga domain. Ada juga SSL, Softaculous untuk memasang aplikasi, serta akses SSH dan Terminal.

Saya memilih mulai dari paket ini karena website uji masih sederhana. Rasanya belum perlu mengambil paket lebih besar sebelum tahu kebutuhan sebenarnya. Kalau nanti isi website bertambah dan pemakaiannya makin berat, barulah masuk akal untuk melihat apakah kapasitasnya perlu ditambah.

Menyiapkan website lewat cPanel

Setelah menentukan paket, bagian berikutnya adalah melihat cara mengelola websitenya. ArenHost menggunakan cPanel, dengan menu untuk mengurus file, email domain, dan WordPress. Di tampilan yang disertakan, WordPress Manager by Softaculous juga sudah terlihat di sisi kiri.

Image

Tampilan cPanel ArenHost, termasuk menu email, pengelolaan file, dan WordPress.

Buat yang belum pernah memakai cPanel, jumlah menunya mungkin terasa banyak. Tapi untuk memulai, nggak semuanya perlu dipelajari sekaligus. Fokus dulu ke kebutuhan yang sedang dikerjakan, misalnya mengelola WordPress atau membuka File Manager. Menu lain bisa dipelajari sambil jalan.

Website yang dijadikan bahan uji masih berupa blog WordPress sederhana. Ini berguna untuk melihat hasil awal, meski belum menggambarkan website yang sudah penuh artikel, foto, dan plugin. 

Selama 30 hari uptime tercatat 99,98 persen

Setelah website siap, yang ingin saya lihat berikutnya adalah kestabilannya. Halaman yang cepat dibuka tentu menyenangkan, tapi untuk proyek yang akan dipakai terus, saya juga ingin tahu seberapa sering website bisa diakses.

Hasil pemantauan pada 1–30 Oktober 2026 menunjukkan uptime 99,98%. Kalau persentase itu diubah menjadi waktu, bagian tidak aktifnya setara sekitar 8 menit 38 detik selama 30 hari. Jadi, angkanya memang mendekati 100%, tetapi bukan berarti sama sekali tidak ada downtime.

Durasi tadi adalah hitungan dari persentase, bukan catatan satu kejadian gangguan. Tanpa log lengkap, belum bisa diketahui apakah waktunya terkumpul dalam satu kejadian atau beberapa gangguan singkat. Meski begitu, hasil bulan ini cukup memberi gambaran awal tentang ketersediaan website selama diuji.

Untuk proyek utama nanti, pemantauan tetap perlu dilanjutkan. Saya ingin melihat apakah hasilnya tetap konsisten setelah website benar-benar dipakai, bukan hanya saat masih dalam tahap percobaan.

Hasil PageSpeed bagus untuk halaman yang masih ringan

Selain uptime, kecepatan halaman juga ikut diperiksa lewat PageSpeed Insights. Pada pengujian desktop, skor performanya mencapai 100. Konten awal tercatat muncul dalam 0,2 detik, sedangkan elemen konten terbesar tampil dalam 0,3 detik.

Image

Hasil PageSpeed Insights pada mode desktop. Skor performa yang terlihat adalah 100.

Metrik pada screenshotHasil
Skor performa desktop100
First Contentful Paint0,2 detik
Largest Contentful Paint0,3 detik
Total Blocking Time0 milidetik
Speed Index0,4 detik
Cumulative Layout Shift0,006

Kalau istilah di tabel terasa asing, penjelasannya kurang lebih begini, FCP melihat kapan konten pertama mulai muncul, sedangkan LCP melihat kapan bagian konten terbesar tampil. CLS memberi gambaran apakah susunan halaman banyak bergeser saat dimuat. Hasil yang terlihat di sini cukup baik untuk halaman yang diuji.

skor 100 ini membuat saya tertarik melanjutkan pengujian, tetapi belum cukup untuk menyimpulkan semua jenis website akan mendapat hasil yang sama. 

Mencoba bertanya ke customer service

Setelah melihat hasil website, saya juga ingin tahu bagaimana bantuannya ketika pengguna bingung menghadapi error. Untuk bagian ini, pengujian dilakukan dengan menanyakan masalah WordPress umum, seperti “Error establishing a database connection” dan pesan “Ada error serius pada WordPress Anda”.

Pertanyaan diajukan pada jam kerja yang diinformasikan, yaitu pukul 08.00–00.00. Berdasarkan catatan pengujian, jawaban diterima dalam waktu kurang dari 5 menit dan dinilai lumayan membantu. Untuk pertanyaan yang dicoba, respons seperti ini termasuk cepat.

Buat saya, jawaban yang membantu punya nilai lebih daripada sekadar cepat dibalas. Saat website bermasalah, setidaknya pengguna perlu tahu harus mulai mengecek dari mana. Meski begitu, waktu balasan tadi jangan diartikan sebagai waktu penyelesaian masalah.

Bantuan di luar jam kerja belum diuji, jadi hasil yang saya dapat merupakan pengujian di jam kerja mereka 08.00–00.00. Kalau proyek membutuhkan bantuan pada dini hari, hal tersebut perlu ditanyakan dan di uji lebih lanjut sebelum memilih layanan, tetapi menurut saya jam 08.00-00.00 sudah sangat mengcover kebutuhan saya.

Melihat juga komentar pembeli lain

Sebagai tambahan, ada screenshot penilaian produk dari shopee mereka dengan nilai 5,0 dari 5 dan kategori bintang lima sebanyak “1RB”. Penilaian bintang lain juga terlihat, jadi pengalaman pembelinya tetap beragam.

Image

Komentar yang cukup menarik menyebut fitur builder lengkap, tetapi perlu dicoba satu per satu agar terbiasa. Ini memberi gambaran yang lebih berguna daripada bintangnya saja.

Setelah sebulan masih ingin lanjut mencoba

Dari percobaan ini, Business Starter memberi hasil awal yang cukup menarik: uptime 99,98% selama 30 hari, skor PageSpeed desktop 100, dan jawaban CS kurang dari lima menit pada jam kerja. Untuk mulai menyiapkan website WordPress yang ringan, hasil tersebut memberi alasan untuk mencoba lebih jauh.

Dengan cara ini, keputusan memilih hosting terasa lebih masuk akal. Ada hasil yang bisa dilihat, ada bantuan yang sudah dicoba, dan ada bagian yang masih perlu diuji. Biaya awalnya juga cukup kecil untuk memberi ruang mencoba sebelum memindahkan seluruh proyek. Tetapi saya rasa ArenHost sudah sangat cukup untuk kebutuhan proyek saya, mungkin bulan ini saya akan baru benar benar menggunakan dan memigrasi semua proyek saya ke ArenHost, mungkin itu saja dari saya, sekian termakasih

Previous

Top Up ML Kilat Tanpa Perlu Login Akun yang Merepotkan