MAKASSAR – Satu tahun perjalanan Gerakan Rakyat bukanlah sekadar angka dalam hitungan waktu. Ia adalah fase konsolidasi gagasan, penguatan komitmen, dan penajaman arah perjuangan. Momentum itulah yang dimanfaatkan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Gerakan Rakyat Sulawesi Selatan untuk menegaskan kembali visi besar tentang kesetaraan dan keadilan sosial melalui dialog publik di Radio Insaniah, bagian dari Universitas Muhammadiyah Makassar, Selasa (24/2/2026).
Dalam diskusi bertema “Kesetaraan dan Keadilan Sosial Hari Ini dan Masa Depan”, Sekretaris DPW Gerakan Rakyat Sulsel, Muhammad Zaynur, menyampaikan pesan yang kuat dan menggugah. Ia menekankan bahwa Indonesia tidak cukup hanya berbicara tentang pertumbuhan ekonomi, tetapi harus memastikan pertumbuhan itu dirasakan secara merata oleh seluruh rakyat.
Menurutnya, kesetaraan bukan konsep abstrak yang berhenti dalam teks konstitusi. Kesetaraan adalah akses yang nyata: pendidikan yang berkualitas bagi semua anak bangsa, layanan kesehatan yang mudah dijangkau, kesempatan kerja yang layak, serta ruang usaha yang terbuka tanpa diskriminasi. Jika akses tersebut masih timpang, maka tugas bersama adalah memperjuangkannya hingga benar-benar merata.
Zaynur mengingatkan bahwa Indonesia berdiri di atas fondasi nilai keadilan sosial sebagaimana termaktub dalam Pancasila. Namun nilai luhur itu harus diterjemahkan menjadi kebijakan konkret yang berpihak pada masyarakat kecil. Tanpa keberanian melakukan koreksi struktural, kesenjangan sosial akan terus menjadi persoalan laten yang menghambat kemajuan bangsa.
Gagasan tersebut sejalan dengan visi yang selama ini digaungkan oleh Anies Baswedan, yang menempatkan keadilan sosial sebagai prasyarat utama bagi Indonesia yang maju dan bermartabat. Inspirasi ini, menurut Zaynur, menjadi salah satu pijakan moral Gerakan Rakyat dalam membangun gerakan yang inklusif dan berorientasi pada kepentingan rakyat.
Ia menegaskan bahwa keadilan sosial bukan hanya tuntutan moral, tetapi juga kebutuhan strategis. Ketika masyarakat merasakan kehadiran negara secara adil, stabilitas nasional akan lebih kokoh. Kepercayaan publik terhadap institusi meningkat, partisipasi warga dalam demokrasi semakin luas, dan ruang dialog terbuka lebih sehat.
Untuk itu, DPW Gerakan Rakyat Sulsel mendorong sejumlah agenda prioritas. Pertama, penguatan UMKM sebagai tulang punggung ekonomi rakyat. UMKM bukan hanya sektor ekonomi, tetapi instrumen pemerataan kesejahteraan. Kedua, penciptaan lapangan kerja berbasis potensi daerah agar pertumbuhan ekonomi tidak terpusat di kawasan tertentu saja. Ketiga, distribusi pembangunan yang inklusif hingga ke wilayah pelosok, sehingga tidak ada daerah yang tertinggal.
Dalam forum yang berlangsung dinamis tersebut, mahasiswa turut menyampaikan pertanyaan dan pandangan kritis mengenai implementasi kebijakan publik. Zaynur menyambutnya sebagai bagian dari tradisi intelektual yang harus terus dirawat. Ia menilai kampus sebagai ruang strategis untuk melahirkan gagasan segar dan solusi atas berbagai persoalan bangsa.
Generasi muda, khususnya mahasiswa dan generasi Z, diajak untuk tidak bersikap apatis. Perubahan, tegasnya, tidak akan lahir dari sikap diam. Anak muda harus berani terlibat dalam gerakan sosial dan politik yang konstruktif. Kampus harus menjadi pusat diskursus yang mendorong lahirnya kebijakan lebih adil dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Sebagai bentuk komitmen membuka ruang partisipasi, DPW Gerakan Rakyat Sulsel juga mengundang civitas akademika untuk ambil bagian dalam agenda “Vox Populi” dan “Desak Anies” yang direncanakan berlangsung pada Mei 2026 bersama Anies Baswedan. Forum tersebut dirancang sebagai wadah dialog terbuka antara masyarakat dan tokoh publik, sehingga aspirasi dapat disampaikan secara langsung dan transparan.
Langkah ini menunjukkan bahwa Gerakan Rakyat tidak ingin berjalan sendiri. Demokrasi yang sehat membutuhkan interaksi dua arah—antara pemimpin dan rakyat, antara gagasan dan realitas. Aspirasi publik harus menjadi bahan bakar dalam merumuskan kebijakan yang lebih inklusif dan berkeadilan.
Peringatan satu tahun Gerakan Rakyat di Sulawesi Selatan juga diisi dengan berbagai kegiatan sosial-reflektif. Donasi buku ke perpustakaan di sejumlah daerah menjadi simbol komitmen terhadap literasi dan pemerataan akses ilmu pengetahuan. Aksi menanam pohon mencerminkan tanggung jawab terhadap keberlanjutan lingkungan. Berbagi takjil menghadirkan nilai solidaritas sosial. Sementara refleksi hari jadi organisasi menjadi ruang evaluasi untuk memperkuat langkah di masa depan.
Semua rangkaian tersebut menegaskan bahwa perjuangan kesetaraan dan keadilan sosial tidak berhenti pada diskusi dan narasi. Ia harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang menyentuh kehidupan masyarakat secara langsung.
Satu tahun adalah awal perjalanan panjang. Namun arah yang ditetapkan sudah jelas: membangun Indonesia yang lebih setara, lebih inklusif, dan lebih adil. Indonesia yang tidak hanya tumbuh secara ekonomi, tetapi juga matang secara sosial. Indonesia yang memastikan setiap warga memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan berkontribusi.
Dengan komitmen yang terus diperkuat, Gerakan Rakyat Sulsel menegaskan tekadnya untuk menjadi bagian dari upaya kolektif menghadirkan keadilan sosial sebagai kenyataan, bukan sekadar janji. Karena masa depan bangsa ditentukan oleh sejauh mana kita berani memperjuangkan kesetaraan hari ini.